Saturday, March 21, 2015

3 Pesepakbola Tercepat Sejagat

Arjen Robben. Arjen Robben

Pria kelahiran Bedum, Belanda itu merupakan pesepakbola tercepat di dunia saat ini. Dia mencatat top speed 37 km/jam saat Belanda menghancurkan Spanyol dengan skor 5-1 di ajang Piala Dunia 2014.

Sebelumnya, kecepatan lari Robben hanya 30,7 km/jam. Dengan demikian, pria berusia 30 tahun itu melewati kecepatan lari Theo Walcott, yakni 35,7 km/jam.

Sepanjang karirnya, Robben sudah memperkuat lima klub profesional, yakni Groningen, PSV, Chelsea, Real Madrid dan Munchen. Dengan kecepatan yang dimilikinya, dia sudah mencetak 153 gol dari 445 penampilan bersama enam klub tersebut.
 img_walcott-8.jpgTheo Walcott

Postur yang tidak terlalu tinggi, yakni 176 cm membuat Walcott lebih leluasa melakukan pergerakan. Bahkan kecepatan larinya mencapai 35,7 km/jam.

Dengan kecepatannya itu, pria berusia 25 tahun tersebut sering memimpin pasukan Arsenal dalam membangun serangan balik. Begitu Arsenal mendapat kesempatan balik, Walcott pasti akan menggiring bola hingga ke kotak penalti dan memberikan umpan manis kepada rekannya yang mempunyai peluang mencetak angka.

Berkat kecepatan yang dimilikinya itu, Walcott sudah mencatatkan 69 gol dari 281 penampilan di semua kompettisi yang dijalaninya bersama Arsenal sejak musim 2005-06
Mata Valencia Jadi 'Korban' Kerasnya Bentrokan MU vs Olympiakos  Antonio Valencia

Tahun 2013, Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) merilis pemain paling cepat di dunia. Sungguh mengejutkan, pemain sayap Manchester United, Antonio Valencia merupakan pemain tercepat dengan kecepatan berlari mencapai 35,2 km/jam.

Namun rekor yang diciptakan oleh eks Wigan itu sudah dipecahkan oleh Walcott dan Robben. Kini, Valencia merupakan pemain tercepat ketiga di dunia.

Sayangnya, sejak mengalami cedera panjang di musim 2010-11, Valencia jarang memperlihatkan kecepatannya di lapangan hijau. Dia seperti takut mendapat cedera parah yang mengakibatkannya absen panjang.

Pria berusia 28 tahun tersebut memulai karir sepak bolanya sejak tahun 2003. Total ada lima tim yang diperkuat Valencia sepanjang karirnya, yakni El Nacional, Villarreal, Recreativo, Wigan dan Manchester United. Total, dia mencatatkan 39 gol dari 379 penampilan.

Maradona

Diego Armando Maradona, Legenda Sepakbola Argentina yang lahir di Buenos Aires, pada 30 Oktober 1960. Maradona dikenal sebagai pemain yang kontroversial baik di dalam maupun di luar lapangan, namun itu semua Ia imbangi dengan sederet prestasi yang membanggakan baik di klub maupun bagi timnas Argentina. Puncak dari prestasinya di dunia sepakbola Maradona dianugrahi gelar pemain terbaik FIFA abad ke-20 (FIFA Player of the 20th Century), versi pilihan masyarakat dunia yang memilihnya pada polling di website FIFA. Maradona meraih 53,6% suara, mengguli Pele yang hanya mendapatkan 18,53% suara. 
Sepanjang perjalanan karir sebagai pesepakbola profesional Maradonna sempat membela beberapa klub : Argentinos Junior, Boca Junior, Barcelona, Napoli, Sevilla, Newell's Old Boys. Di timnas Argentina, Maradonna tercatat 4 kali mengikuti penyelenggaraan FIFA World Cup, salah satunya pada penyelenggaraan World Cup 1986, dimana Maradonna tampil sebagai kapten tim dan memipin Argentina meraih Piala Dunia yang kedua bagi negara tersebut. 


Banyak cerita yang di torehkan Maradona pada Piala Dunia 1986, selain menjadi kapten tim dan menjuarai Piala Dunia 1986, Maradonna juga mencetak 5 gol pada ajang tersebut, yang 2 gol diantaranya akan selalu dikenang oleh para pecinta sepakbola. Dua gol tersebut ia cetak saat timnya menghadapi Inggris. Gol pertama Maradonna cetak ke gawang dengan menggunakan tangan yang luput dari penglihatan wasit (Ali Bin Nasser dari Tunisia). Proses terjadinya gol didahului Maradona yang bersolo rundari tengah lapangan, meliuk-liuk melewati 5 pemain Inggris lalu melepaskan umpan pendek ke Valdano, namun penguasaan bola Valdano tidak sempurna sehingga mudah dihalau oleh pemain Inggris. Sayang, bola halauan pemain belakang inggris tersebut, menuju ke arah Maradonna yang telah berada di hadapan kiper Inggris, Peter Shilton. Peter Shilton bereaksi untuk menghalau bola, namun Maradonna bergerek lebih cepat, sambil melompat, mengangkat tangannya, dan menyentuh bola lambung tersebut dengan tangan ke arah gawang. Berikut video Gol yang dijuluki "Goal Hand's of God" tsb :

 
 
Gol kedua dicetak Maradonna dengan lebih elegant  di banding gol pertamanya yang sangat kontroversial. Gol tercipta dari hasil solo run Maradonna dengan melewati 5 pemain Inggris + kiper Peter Shilton. Gol tersebut pada tahun 2002 terpilih pada voting di website FIFA, sebagai gol terbaik di abad ke 20. Berikut video "The Best Goal of The 20th Century"

Alfredo Di Stefano

Alfredo Di Stéfano Laulhé lahir 4 juli 1926 di Buenos Aires, Argentina dari keluarga Italia yang berimigrasi ke argentina. Alfredo seorang pesepakbola dengan posisi pemain depan yang pernah membela tiga negara : Argentina, kolombia, dan Spanyol karena pada saat itu FIFA belum menetapkan peraturan; mengenai seorang pemain sepakbola yang hanya dapat memperkuat satu negara seperti sekarang. Bersama tim Argentina Alfredo sempat membela tim Tango sebanyak 6 kali, bersama Kolombia Ia sempat bermain empat kali, dan bersama Spanyol Alfredo bermain sebanyak 31 kali. Namun Ia tidak pernah sekalipun bermain di putaran final Piala Dunia. Alfredo tercatat sebagai salah satu legenda sepakbola yang tidak pernah tampil di putaran final Piala Dunia


Awal Karir Alfredo meniti karir sepakbola profesionalnya bersama River Plate di usia 17 tahun (1943). Bermain bersama River Plate Ia sempat menorehkan tinta emas dengan menjadi juara Primera Division (1945, 1947), top skor (1947), dan menempatkan River di posisi Runner-Up kejuaraan South American Club Championship (1948). Pada tahun 1949 Alfredo hijrah ke klub Kolombia, Millonarios. Selama empat tahun di Kolombia, Alfredo membawa klub Millonarios menjadi juara Colombian Championship selama empat tahun berturut-turut(1949-1953).

Prestasi di Kolombia mengundang Real Madrid untuk membeli Alfredo. Bersama Real Madrid Alfredo mencapai pencapaian puncak karir nya. Berpatner dengan Frec Puskas Ia menghantarkan Real Madrid menjadi Raja Eropa dengan menjuarai Europan Cup lima kali berturut-turut (1955/1956, 1956/1957, 1957/1958, 1958/1959, dan 1959/1960). Setelah mencetak 216 gol dari 282 penampilanya selama sebelas tahun bersama Real Madrid Alfredo pindah ke Espanyol selama dua tahun sebelum pensiun pada tahun 1966
 
 Prestasi 'Alfredo Di Stefano' di Sepakbola sebagai pemain :

Timnas Argentina
  • Copa America : 1947
Club
  • Argentina Primera Division : 1945 , 1947 (River Plate)
  • Runner-Up South America Championship : 1948 (River Plate)
  • Colombian Championship : 1949, 1951,1952 (Millonarios)
  • Copa Colombia : 1953 (Millonarios)
  • Copa Bodas de Oro del Real Madrid : 1952 (Millonarios)
  • Pequena Copa del Munde de Clubs :1953 (Millonarios)
  • Spanish Primera Division : 1954,1955,1957,1958,1961,1962,1963,1964 ( Real Madrid ) 
  • Copa Del Rey : 1962 ( Real Madrid )
  • European Cup : 1955-56,1956-57,1957-58,1958-59, 1959-1960 ( Real Madrid )
  • Intercontinental Cup : 1960 ( Real Madrid )
  • Latin Cup : 1955, 1957 ( Real Madrid )
  • Pequena Copa del Munde de Clubs : 1956 ( Real Madrid )  
Prestasi Individu
  • Argentine League Top Skor  : 1947
  • Colombian League Top Skor :  1951, 1952
  • Pichichi Trophy :1954, 1956, 1957, 1958, 1959
  • Balon D'Or : 1957, 1959
  • European Cup Top Skor : 1958, 1962
  • Spanish Player (Athelete) of the year : 1957, 1958, 1960, 1964
  • FIFA 100

Bobby Charlton


Sir Robert " Bobby " Charlton is a Football Legend of England who was born in Ashington , Northumberland , England on October 11 , 1937. Bobby Charlton was recorded as one of the best midfielders ever owned three lions Team ( UK ) . Bobby Charlton was elected to the England national team as much as 4 times following the World Cup ( 1958 , 1962 , 1966 , 1970) . When Britain emerged as winners of the 1966 World Cup , Bobby Charlton was a key player England and became one of the best players in the ternamen , in that year also Bobby Charlton was awarded the Ballon d'Or .

Tuesday, March 17, 2015

profil fabio capello




Fabio - Capello.jpg
Informasi Pribadi
Tanggal serasi lahir 18 Juni 1946 ( Umur 68 )
Tempat serasi lahir San Canzian d' Isonzo , Gorizia , Italia
Posisi Bermain gelandang
Informasi klub
Klub sebelumnya Saat ini Rusia(Pelatih )
Karier junior
1963-1964 SPAL
Karier Senior *
Tahun Tim Tampil ( Gol )
1964-1967 SPAL 49 ( 3 )
1967-1970 AS Roma 62 ( 11 )
1970-1976 Juventus 165 ( 27 )
1976-1980 AC Milan 65 ( 4 )
Total 341 ( 45 )
Tim nasional
1972-1976 Italia 32 ( 8 )
 kepelatihan
1991-1996 AC Milan
1996-1997 Real Madrid
1997-1998 AC Milan
1999-2004 Roma
2004-2006 Juventus
2006-2007 Real Madrid
2008-2012 Inggris
2012- Rusia      
Fabio Capello (lahir di San Canzian d'Isonzo, Gorizia, Italia, 18 Juni 1946; umur 68 tahun) adalah salah satu pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola dunia. Sejak Juli 2006 Capello menjadi pelatih Real Madrid, klub yang pernah ia latih pada musim 1996/97, namun telah dipecat pada 28 Juni 2007.
Nama Capello menjadi terkenal saat ia melatih AC Milan dari tahun 1991—1996. Pada saat melatih AC Milan, Capello juga berhasil menaklukkan Persib Bandung dengan skor fantastis 8–0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1995 dalam laga bertajuk pertandingan persahabatan. Milan memperoleh empat gelar Serie A dan satu gelar Liga Champions pada masa itu. Setahun di Madrid, ia kembali ke Milan untuk musim 1997/98, namun kurang berhasil. Tahun 1999 ia pindah melatih AS Roma, dan Roma berhasil juara Serie A pada musim 2000/01. Dari tahun 2004 hingga 2006, Capello juga pernah melatih Juventus. Ia diberi kepercayaan oleh The FA untuk menjadi manajer tim nasional Inggris pada 12 Desember 2008. Pada 8 Februari 2012, Capello mengundurkan diri setelah perselisihannya dengan pejabat tinggi The FA.
 
 
 

Monday, March 16, 2015

5 pelatih bergaji tertinggi 2015

Sepak bola merupakan industri dengan perputaran uang yang luar biasa di era sekarang. Tak hanya pemain, pelatih juga bergelimang harta dengan gajinya yang selangit.

Menariknya meski Liga Premier Inggris mengklaim sebagai kompetisi sepak bola paling glamor, faktanya Bundesliga menjadi penguasa dalam urusan gaji pelatih.

Berikut daftar pelatih dengan gaji tertinggi di jagad sepak bola seperti dirangkum dari berbagai sumber:

1. Pep Guardiola


Guardiola menjadi pelatih dengan gaji tertinggi untuk musim ini. Bayern Muenchen berani menggajinya dengan uang sebesar 14,8 juta pound atau Rp 295 miliar per tahun.

Faktanya uang sebesar itu tidak percuma dikeluarkan FC Hollywood. Musim lalu mantan pelatih Barcelona ini membawa Muenchen meraih empat gelar.

Musim ini kesempatan meraih trofi juga masih terbuka. Sebab Muenchen masih bertahan di puncak klasemen Bundesliga, babak 16 besar DFB Pokal dan Liga Champions.


2. Jose Mourinho

Jose Mourinho menempati peringkat kedua dalam daftar pelatih dengan gaji tertinggi. Chelsea berani membayar pelatih asal Portugal itu dengan dana 8,37 juta pound atau Rp 167 miliar per tahun.

Mourinho memang pelatih spesialis gelar. Ia pernah meraih sukses di Portugal, Inggris, Italia, dan Spanyol.

Musim ini Mou sudah menyumbang gelar Piala Liga bagi The Blues. Dan mereka masih berpeluang menjadi juara di Liga Champions dan Liga Inggris.

3. Marcelo Lippi


Nama Guangzhou Evergrande mungkin belum familiar di pecinta sepak bola. Namun klub Liga Super China ini mampu membayar Marcelo Lippi 8,34 juta pound atau Rp 166 miliar per tahunnya.

Pengalaman Lippi bersama Juventus, Inter Milan, Napoli, hingga timnas Italia merupakan garansi bagi Evergrande. Faktanya pelatih asal Italia itu sudah menyumbang lima gelar sejauh ini.

Namun keputusan mengejutkan datang dari Lippi akhir bulan lalu. Ia memutuskan mundur dari Evergrande dengan alasan keluarga.

 4. Louis van Gaal


Louis van Gaal ditunjuk menjadi manajer Manchester United awal musim ini menggantikan David Moyes. Dan MU rela merogoh kocek hingga tujuh juta pound atau Rp 139 miliar per tahun untuk manajer asal Belanda tersebut.

Van Gaal ditugaskan untuk kembali membawa MU ke papan atas dan Liga Champions. Sejauh ini usahanya cukup berhasil karena Setan Merah masih bertahan di posisi keempat klasemen Liga Premier Inggris.

5. Fabio Capello


Fabio Capello merupakan pelatih timnas dengan gaji tertinggi sejauh ini. Rusia menggaji pelatih asal Italia itu dengan uang sebesar 6,51 juta pound atau Rp 130 miliar pertahunnya.

Rusia percaya Capello akan sukses saat membawa tim itu ke ajang Piala Dunia 2018. Terlebih Rusia akan menjadi tuan rumah.

Namun pada Agustus lalu muncul kabar yang kurang mengenakkan. Capello dan stafnya belum dibayar oleh Rusia hingga awal tahun ini.

rahasia sukses messi

Messi Bocorkan Rahasia Suksesnya

Apa rahasia sukses Lionel Messi hingga menjadi seorang pemain tenar seperti sekarang? Jawabannya simple. Ia hanya berusaha bermain layaknya seorang anak kecil, dan selalu berusaha menghindari cedera.

Menurut kariernya, di usianya yang masih belia Messi sudah menunjukkan bakat dan talenta brilliannya dalam mengolah si kulit bundar. Bomber yang besar di Akademi Barcelona, La Masia itu menjelaskan tidak pernah merubah bentuk permainannya selama bertahun-tahun. Bahkan, Messi mengaku tidak memiliki trik khusus saat mentas di lapangan hijau

 “Saya berharap tidak pernah mengalami cedera dan saya melakukan segala sesuatunya sesuai naluri saya. Saya hanya bermain seperti anak kecil,” kata Messi dalam sebuah wawancara
 “Saya selalu berpikir mengenai diri saya sendiri. Anda harus ingat, sepakbola permain untuk bersenang-senang dan Anda bermain untuk itu. Saya tidak merencanakan dan mengantisipasi permainan saya,” aku Messi yang tidak memiliki gambaran pasti apa yang dilakukannya saat memasuki lapangan.

Dan Messi kembali memberikan sumbangsih besarnya saat Barcelona menghadapi Shakthar Donestk di babak perempatfinal LIga Champions saat dirinya mencetak gol tunggal untuk memastikan langkah El-Barca menuju semifinal kompetisi antar klub elit di Eropa itu musim ini.

menggiring bola dengan kaki bagian dalam

Teknik menggiring bola ini dapat Anda lakukan sesuai dengan keinginan Anda, yang terpenting adalah Anda dapat membawah bola ke daerah lawan dengan baik dan berhasil mencetak gol atau memberi umpan

 Menggiring bola merupakan hal dasar dalam permainan Sepakbola, namun jika hal ini tidak dilatih dengan baik maka kita akan mengalami kesulitan dalam menggiring bola. Menggiring bola ada beberapa teknik, menggiring bola dengan kaki dalam, dengan kaki luar dan bagian punggung kaki.

Teknik Cara Menggiring Bola Dengan Kaki Bagian Dalam Sepak bola


Cara Menggiring Bola Dengan Kaki Bagian Dalam Pada Sepak bola :


a) Langkah pertama adalah Anda harus Berdiri dengan sikap melangkah, dengan kaki kiri di depan dan kaki kanan di belakang.

b) Setelah itu badan condong ke depan.

c) Letakkan bola di depan kaki kanan.

d) Bola ditendang dengan menggunakan kaki kanan bagian dalam dengan perlahan-lahan sehingga bola bergulir perlahan ke depan.

e) Lakukan gerakan tersebut berulang-ulang hingga kamu dapat mengontrol jalannya bola. Setelah lancar menggunakan kaki kanan, sekarang coba kamu lakukan dengan menggunakan kaki bagian kiri.

f) Setelah lancar menggiring bola, Anda dapat menvariasikan menggiring bola dengan melewati rintangan atau menggiring secara zik-zak.

tips menggiring bola dengan kaki bagian luar

- Menggiring bola adalah hal yang dasar dalam permainan Sepakbola, jika kita dapat menggiring bola dengan baik maka kita akan lebih mudah untuk melewati lawan dan mencetak gol. Oleh karena itu, bagi pemain sepakbola menggiring bola adalah hal yang paling dasar dan wajib untuk dikuasai.

Teknik Cara Menggiring Bola Dengan Kaki Bagian Luar
Menggiring Bola sendiri ada beberapa macam, ada yang menggunakan dengan menggunakan kaki bagian dalam, kaki bagian luar dan kaki bagian punggung. Semua itu dapat Anda lakukan sesuai dengan selera Anda atau sesuai dengan cara menggiring yang Anda kuasai. Untuk Anda yang ingin belajar menggiring bola, berikut ini Bacaan Sekolah akan berbagi mengenai cara menggiring bola dengan kaki bagian luar.

Cara Menggiring Bola Dengan Kaki Bagian Luar :


a) Langkah pertama adalah Berdiri sikap melangkah, dengan kaki kiri di depan dan kaki kanan di belakang.

b) Yang kedua Badan condong ke depan.

c) Kemudian letakkan bola di depan kaki kiri bagian dalam segaris dengan kaki kanan Anda.

d) Bola ditendang dengan menggunakan kaki kanan bagian luar dengan perlahan-lahan sehingga bola bergulir perlahan ke depan.

e) Lakukan gerakan tersebut berulang-ulang hingga kamu dapat mengontrol jalannya bola. Setelah lancar menggunakan kaki kanan, sekarang coba lakukan dengan menggunakan kaki bagian kiri.

ukuran lapangan sepakbola

Sepakbola merupakan Jenis olahraga terpopuler di Dunia. Permainan Sepakbola biasanya juga diajarkan di Sekolah Dasar hingga ketingkat SMA. Indonesia merupakan salah satu negara yang fanatik terhadap Permainan Sepakbola. Setiap kali Timnas bermain pasti Stadion Gelora Bung Karno Penuh.


Ukuran Lapangan Sepakbola standar FIFA InternasionalOrang yang suka Sepakbola ini tidak mengenal usia, lelaki atau perempuan. Sepakbola merupakan cabang olahraga yang dimainkan oleh dua tim yang masing - masing tim beranggotakan 11 orang.

 Organisasi Sepakbola tertinggi di dunia adalah FIFA (Federation Internationale Football Association). Ukuran Lapangan Sepakbola Sendiri sudah di tentukan Standartnya oleh FIFA. Mulai dari ukuran Gawang, Lebar Lapangan Sepakbola, Panjang Lapangan Sepakbola dan ukuran Lainnya

Ukuran Lapangan Sepakbola Secara Keseluruhan :
Panjang lapangan sepakbola maksimum 120 meter
Panjang lapangan sepakbola minimum 90 meter
Lebar lapangan sepakbola maksimum 90 meter
Lebar lapangan sepakbola minimum 45 meter

Ukuran Lapangan Untuk Pertandingan Tingkat Internasional :
Panjang lapangan maksimum 110 meter
Panjang lapangan minimum 100 meter
Lebar lapangan maksimum 75 meter
Lebar lapangan minimum 64 meter

Ukuran Lingkaran Tengah Lapangan Sepakbola :
Lingkaran Tengah Merupakan awal dimulai atau sering disebut dengan kick off pertandingan Sepakbola. Lingkaran tengah ini mempunyai ukuran radius 9,15 meter.

Garis Tengah Lapangan Sepakbola :
Garis tengah lapangan sepakbola merupakan garis yang memisah lapangan menjadi dua. Ini digunakan untuk membagi wilayah dua tim, garis tengah ini diletakkan tepat di tengah lapangan.

 Ukuran Kotak Pinalti Lapangan Sepakbola :
Daerah ini adalah daereh kekuasaan penjaga gawang, pada daerah ini Kiper lebih dilindungi jika ada benturan dengan kiper maka pemain lawan akan dianggap melakukan pelanggaran.
Kotak Pinalti ini berbentuk persegi panjang, kotak pinalti mempunyai panjang 40 meter, lebar 16,5 meter. Jarak tendangan pinalty adalah 11 meter dari gawang yang disebut sebagai titik putih atau titik pinalti.

Ukuran Gawang dan Area Gawang Sepakbola :

Bentuk Gawang Sepakbola adalah persegi panjang dengan tinggi 2,4 meter dan lebar 7,3 meter. Sedangkan untuk area gawang adalah panjang 18,32 meter serta lebar 5,5 meter.

Wednesday, May 14, 2014

Manchester City








Manchester City Football Club is an English Premier League football club based in Manchester. Founded in 1880 as St. Mark's, they became Ardwick Association Football Club in 1887 and Manchester City in 1894.
  1. Manager: Manuel Pellegrini
  2. League: Premier League
  3. Location: Manchester
  4. Arena/Stadium: City of Manchester Stadium
  5. Training ground: Carrington Training Centre
  6. Nicknames: The Blues, Man City, City, The Citizens, The Sky Blue
     
     Manchester City Football Club is an English Premier League football club based in Manchester. Founded in 1880 as St. Mark's (West Gorton), they became Ardwick Association Football Club in 1887 and Manchester City in 1894.
    The club has played at the City of Manchester Stadium since 2003, having played at Maine Road from 1923. The club's most successful period was in the late 1960s and early 1970s when they won the League Championship, FA Cup, League Cup and European Cup Winners' Cup under the management team of Joe Mercer and Malcolm Allison.
    After losing the 1981 FA Cup Final, the club went through a period of decline, culminating in relegation to the third tier of English football for the only time in their history in 1998. Having regained Premier League status, the club was purchased in 2008 by Abu Dhabi United Group and became one of the wealthiest in the world.
    In 2011, Manchester City qualified for the UEFA Champions League and won the FA Cup. The following year, they won the Premier League, their first league title for 44 years. In 2014, they won the League Cup and a second Premier League title.

    History

     

    City gained their first honours by winning the Second Division in 1899; with it came promotion to the highest level in English football, the First Division. They went on to claim their first major honour on 23 April 1904, beating Bolton Wanderers 1–0 at Crystal Palace to win the FA Cup; City narrowly missed out on a League and Cup double that season after finishing runners-up in the League but City became the first club in Manchester to win a major honour. In the seasons following the FA Cup triumph, the club was dogged by allegations of financial irregularities, culminating in the suspension of seventeen players in 1906, including captain Billy Meredith, who subsequently moved across town to Manchester United. A fire at Hyde Road destroyed the main stand in 1920, and in 1923 the club moved to their new purpose-built stadium at Maine Road in Moss Side.
    A group of thirteen men, eleven in association football attire typical of the early twentieth century and two in suits. A trophy sits in front of them
    The Manchester City team which won the FA Cup in 1904
    In the 1930s, Manchester City reached two consecutive FA Cup finals, losing to Everton in 1933, before claiming the Cup by beating Portsmouth in 1934. During the 1934 cup run, Manchester City broke the record for the highest home attendance of any club in English football history, as 84,569 fans packed Maine Road for a sixth round FA Cup tie against Stoke City in 1934 – a record which still stands to this day. The club won the First Division title for the first time in 1937, but were relegated the following season, despite scoring more goals than any other team in the division. Twenty years later, a City team inspired by a tactical system known as the Revie Plan reached consecutive FA Cup finals again, in 1955 and 1956; just as in the 1930s, they lost the first one, to Newcastle United, and won the second. The 1956 final, in which Manchester City beat Birmingham City 3–1, is one of the most famous finals of all-time, and is remembered for City goalkeeper Bert Trautmann continuing to play on after unknowingly breaking his neck.
    After relegation to the Second Division in 1963, the future looked bleak with a record low home attendance of 8,015 against Swindon Town in January 1965. In the summer of 1965, the management team of Joe Mercer and Malcolm Allison was appointed. In the first season under Mercer, City won the Second Division title and made important signings in Mike Summerbee and Colin Bell. Two seasons later, in 1967–68, Manchester City claimed the League Championship for the second time, clinching the title on the final day of the season with a 4–3 win at Newcastle United and beating their close neighbours Manchester United into second place. Further trophies followed: City won the FA Cup in 1969, before achieving European success by winning the European Cup Winners' Cup in 1970, beating Górnik Zabrze 2–1 in Vienna. City also won the League Cup that season, becoming the second English team to win a European trophy and a domestic trophy in the same season.
    The club continued to challenge for honours throughout the 1970s, finishing one point behind the league champions on two occasions and reaching the final of the 1974 League Cup. One of the matches from this period that is most fondly remembered by supporters of Manchester City is the final match of the 1973–74 season against arch-rivals Manchester United, who needed to win to have any hope of avoiding relegation. Former United player Denis Law scored with a backheel to give City a 1–0 win at Old Trafford and confirm the relegation of their rivals. The final trophy of the club's most successful period was won in 1976, when Newcastle United were beaten 2–1 in the League Cup final.
    Chart of yearly table positions of City in the Football League.
    A long period of decline followed the success of the 1960s and 1970s. Malcolm Allison rejoined the club to become manager for the second time in 1979, but squandered large sums of money on unsuccessful signings, such as Steve Daley. A succession of managers then followed – seven in the 1980s alone. Under John Bond, City reached the 1981 FA Cup final but lost in a replay to Tottenham Hotspur. The club were twice relegated from the top flight in the 1980s (in 1983 and 1987), but returned to the top flight again in 1989 and finished fifth in 1991 and 1992 under the management of Peter Reid. However, this was only a temporary respite, and following Reid's departure Manchester City's fortunes continued to fade. City were co-founders of the Premier League upon its creation in 1992, but after finishing ninth in its first season they endured three seasons of struggle before being relegated in 1996. After two seasons in Division One, City fell to the lowest point in their history, becoming the second ever European trophy winners to be relegated to their country's third league tier, after 1. FC Magdeburg of Germany.
    After relegation, the club underwent off-the-field upheaval, with new chairman David Bernstein introducing greater fiscal discipline. Under manager Joe Royle, City were promoted at the first attempt, achieved in dramatic fashion in a play-off against Gillingham. A second successive promotion saw City return to the top division, but this proved to have been a step too far for the recovering club, and in 2001 City were relegated once more. Kevin Keegan replaced Royle as manager in the close season, and achieved an immediate return to the top division as the club won the 2001–02 Division One championship, breaking club records for the number of points gained and goals scored in a season in the process. The 2002–03 season was the last at Maine Road, and included a 3–1 derby victory over rivals Manchester United, ending a run of 13 years without a derby win. City also qualified for European competition for the first time in 25 years. In the 2003 close season the club moved to the new City of Manchester Stadium. The first four seasons at the stadium all resulted in mid-table finishes. Former England manager Sven-Göran Eriksson became the club's first manager from overseas when appointed in 2007. After a bright start performances faded in the second half of the season, and Eriksson was sacked in June 2008. Eriksson was replaced by Mark Hughes two days later on 4 June 2008.
    By 2008, the club was in a financially precarious position. Thaksin Shinawatra had taken control of the club a year before, but his political travails saw his assets frozen. Then, in August 2008, the club was purchased by the Abu Dhabi United Group. The takeover was immediately followed by a flurry of bids for high profile players; the club broke the British transfer record by signing Brazilian international Robinho from Real Madrid for £32.5 million. Performances were not a huge improvement on the previous season despite the influx of money however, with the team finishing tenth, although they did well to reach the quarter-finals of the UEFA Cup. During the summer of 2009, the club took transfer spending to an unprecedented level, with an outlay of over £100 million on players Gareth Barry, Roque Santa Cruz, Kolo Touré, Emmanuel Adebayor, Carlos Tevez and Joleon Lescott. In December 2009, Mark Hughes – who had been hired shortly before the change in ownership but was originally retained by the new board – was replaced as manager by Roberto Mancini. City finished the season in fifth position in the Premier League, narrowly missing out on a place in the Champions League, and competed in the UEFA Europa League in season 2010–11.
    Manchester City against Bayern Munich in the UEFA Champions League in 2011
    Continued investment in players followed in successive seasons, and results began to match the upturn in player quality. City reached the 2011 FA Cup Final, their first major final in over thirty years, after defeating derby rivals Manchester United in the semi-final, the first time they had knocked their rival out of a cup competition since 1975. They defeated Stoke City 1–0 in the final, securing their fifth FA Cup, the club's first major trophy since winning the 1976 League Cup. In the same week, the club qualified for the UEFA Champions League for the first time since 1968 with a 1–0 Premier League win over Tottenham Hotspur. On the last day of the 2010–11 season, City passed Arsenal for third place in the Premier League, thereby securing qualification directly into the Champions League group stage. Strong performances continued to follow in the 2011–12 season, with the club beginning the following season in commanding form, including beating Tottenham 5–1 at White Hart Lane and humbling Manchester United by a 6–1 scoreline in United's own stadium. Although the strong form waned half-way through the season, and City at one point fell eight points behind their bitter rivals with only six games left to play, an unprecedented slump by the previous champions allowed the blue side of Manchester to draw back level with two games to go, setting up a thrilling finale to the season with both teams going into the last day equal on points. Despite City only needing a home win against a team in the relegation zone, they still managed to fall a goal behind by the end of normal time, leading some of United's players to finish their game celebrating in the belief that they had won the league. Two goals in injury time – including one scored almost five minutes after normal time had elapsed – resulted in an almost-literal last-minute title victory, City's first in 44 years, and became only the fifth team to win the Premier League since its creation in 1992. In the aftermath that followed, the event was described by media sources from the UK and around the world as the greatest moment in Premier League history. The game was only made all the more notable for former player Joey Barton's sending off, where he committed three separate red card-able incidents on three different players in the space of only a few seconds, resulting in a 12-game ban which effectively forced him to leave English football.
    After an end to the season which many believed would only spur City on, however, the following season failed to capitalise on any of the gains made in the first two full seasons of Mancini's reign. The transfer window saw virtually no players join the club until the last day of the season, when a last-minute burst of activity saw four different players all join in the space of around 10 hours. The free-flowing football of the previous season was suddenly rare to behold, and while City rarely seemed likely to drop below second in the table, they posed little title challenge all season. In the UEFA Champions League, the club was eliminated at the group stage for a second successive season, in a result which seemed to confirm Mancini's reputation as far better at managing in domestic games than European, while a second FA Cup final in three seasons ended in a 1–0 defeat to relegated Wigan Athletic, after rumours circulated that Mancini would be dismissed. Mancini was dismissed two days later, ostensibly as he had failed to reach his targets for the season but with many in the press suggesting a break-down of relations between Mancini and his players but also between the Italian and his board-level superiors, while a refusal to promote young players was also cited In his place was appointed the Chilean Manuel Pellegrini, who boasted a far more impressive Champions League record but less of a reputation for trophy-winning. In Pellegrini's first season, City won the League Cup and regained the Premier League title on the last day of the season